Di dalam pelajaran IPA, khususnya Biologi mempelajari makhluk hidup, termasuk ciri-cirinya. Makhluk hidup itu sendiri tumbuhan, hewan, dan manusia. Salah satu ciri makhluk hidup adalah bertumbuh dan berkembang. Untuk dapat tumbuh serta berkembang, makhluk hidup memerlukan nutrisi dan media tanam untuk tumbuhan. Tumbuh itu mengarah ke atas, tambah tinggi. Sedangkan berkembang mengarah ke samping, semakin besar dan ber-‘isi’.
Awal pertumbuhan adalah benih dan lalu berkembang pada
tahap setelahnya. Saat ini mari kita fokuskan pada tumbuhan.
Sebuah tanaman ada seperti yang dilihat saat ini tidak
serta merta ada demikian. Karena tanaman adalah makhluk hidup, maka dia
mengalami proses tumbuh dan berkembang. Tanaman selalu berawal dari benih,
biji. Ketika benih ini ditaruh dalam media yang tepat, dan sesuai maka mulailah
proses tumbuh itu, proses ‘hidup’ dimulai.
Demikian pula dengan hidup keimanan kita. Pengenalan akan
Allah yang benar dan memiliki hidup yang bermakna diawali dengan kemauan diri
untuk mengenal dan bertumbuh. Layaknya makhluk hidup, pertumbuhan iman selalu
harus dimulai dengan dasar yang jelas, seperti siapa yang dia
tau-kenal-percaya.
Setiap orang dengan agama Kristen belum tentu mengenal
Kristus, mengimaniNya dan lalu percaya padaNya. Tahu Kristus belum tentu berakar
di dalam Dia.
Hal-hal yang diperlukan untuk berakar pada pokok
kebenaran itu sendiri adalah :
1.
Tahu siapa Kristus
Pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Bila
pemahaman awal kenal adalah sama dengan tahu, maka memang demikian adanya.
Namun bila dalam tata bahasa Indonesia sendiri, kenal adalah proses setelah
tahu. Sehingga sebelum kenal, harus tahu dulu siapa Kristus. Hal ini di dapat
dari orang tua atau teman. Pengetahuan secara umum pribadi Kristus memang
diperlukan. Karena ini adalah pintu masuk dari sebuah pengenalan yang lebih
dalam lagi.
2.
Kenal siapa Kristus
Setelah tahu, lalu belajar untuk kenal lebih dalam lagi.
Kenal itu menyangkut segala sesuatu dari pribadi yang kita tahu. Bukan hanya
identitas, namun juga apa yang disukai, apa yang dibenci, apa yang diharapkan,
apa yang tidak diinginkan.
3.
Hidup di dalam Kristus
Ketika bicara hidup di dalam Kristus, maka itu berarti
berjuang sepenuh hati melakukan apa yang diharapkan, disukai, dan melakukannya
dengan kesadaran yang rela dan buka paksaan ataupun topeng. Ketika sampai pada
bagian ini, alasan tidak diperlukan lagi karena buktinya nyata dan tak perlu diragukan
lagi.
Hidup berakar di dalam pemahaman iman yang benar perlu
kedisiplinan pengenalan. Proses awalnya dipaksakan dengan harapan menjadi suatu
nilai yang menetap dan lalu menjadi kebiasaan, berkembang menjadi sebuah
karakter yang memberi ‘kehidupan’.
Berikut ini adalah beberapa kebiasaan yang awalnya memang
harus dipaksakan untuk kemudian berkembang menjadi sebuah gaya hidup yang
‘berakar’.
1.
Saat Teduh
Memberi waktu khusus untuk bersekutu dengan Allah agar
apa yang dijalani setiap hari adalah yang berkenan dihadapan Allah. Fungsi saat
teduh itu sendiri, untuk mengetahui apa rencanaNya hari ini bagiku, untuk peka
apa yang Allah ingin aku lakukan, menjadi semakin mengenal Allah sehingga tidak
mudah diombang-ambingkan oleh angin pengajaran yang ada. Saat teduh dilakukan
setiap hari. Hal ini meneladani Kristus sendiri, yang walau adalah anak Allah,
tetap menjaga persekutuan dengan BapaNya.
2.
Berdoa
Memiliki waktu doa pribadi khusus untuk mengetahui
kehendak Allah dan juga konfirmasiNya dalam banyak hal yang kita belum jelas
dikarenakan dangkalnya pikiran kita. Berjuang menikmati kebersamaan dengan
Allah di dalam waktu doa, memang tidak mudah bila hati dan pikiran kita tidak
tertuju padaNya. Ketika kita berdoa, lakukanlah itu dengan sepenuh hati, jujur
serta terbuka. Bila ada tertulis, doa adalah nafas hidup orang Kristiani,
baiklah memang demikian adanya. Karena doa adalah alat komunikasi kita dengan Bapa
di sorga.
3.
Baca Alkitab
Memiliki waktu untuk membaca Alkitab secara rutin, dan
belajar dari Alkitab. Perlu sebuah tekad besar untuk dapat membaca Alkitab
runtut dan rutin. Sebuah proyek yang dapat disebut “Bible Reading”. Melalui
pembacaan Alkitab, kita dapat mengenal Allah. Bukankah Alkitab adalah isi hati
Tuhan ? Melalui hikmatNya, Allah menginspirasi para penulis tiap kitab dalam
Alkitab, sehingga isi hatiNya dapat tersampaikan. Tidak ada yang kontradiktif
dalam Alkitab. Karena sesungguhnya Alkitab adalah sebuah buku yang
komprehensif.
Ketika, hal tersebut di atas telah menjadi sebuah
kebiasaan serta gaya hidup, maka akar itu telah tumbuh.
Pertanyaan mendasarnya adalah,
1.
Apakah kita mau memulainya ?
2.
Apakah kita rela untuk melakukannya ?
Selamat ‘berakar’.
Apa yang kita lakukan saat ini adalah hasil sebuah keputusan dari
pertimbangan yang panjang.
karenanya jangan sampai salah mengambil keputusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar