Sabtu, 04 Januari 2014

berakar


Di dalam pelajaran IPA, khususnya Biologi mempelajari makhluk hidup, termasuk ciri-cirinya. Makhluk hidup itu sendiri tumbuhan, hewan, dan manusia. Salah satu ciri makhluk hidup adalah bertumbuh dan berkembang. Untuk dapat tumbuh serta berkembang, makhluk hidup memerlukan nutrisi dan media tanam untuk tumbuhan. Tumbuh itu mengarah ke atas, tambah tinggi. Sedangkan berkembang mengarah ke samping, semakin besar dan ber-‘isi’.
Awal pertumbuhan adalah benih dan lalu berkembang pada tahap setelahnya. Saat ini mari kita fokuskan pada tumbuhan.
Sebuah tanaman ada seperti yang dilihat saat ini tidak serta merta ada demikian. Karena tanaman adalah makhluk hidup, maka dia mengalami proses tumbuh dan berkembang. Tanaman selalu berawal dari benih, biji. Ketika benih ini ditaruh dalam media yang tepat, dan sesuai maka mulailah proses tumbuh itu, proses ‘hidup’ dimulai. 
Demikian pula dengan hidup keimanan kita. Pengenalan akan Allah yang benar dan memiliki hidup yang bermakna diawali dengan kemauan diri untuk mengenal dan bertumbuh. Layaknya makhluk hidup, pertumbuhan iman selalu harus dimulai dengan dasar yang jelas, seperti siapa yang dia tau-kenal-percaya.
Setiap orang dengan agama Kristen belum tentu mengenal Kristus, mengimaniNya dan lalu percaya padaNya. Tahu Kristus belum tentu berakar di dalam Dia.
Hal-hal yang diperlukan untuk berakar pada pokok kebenaran itu sendiri adalah :
1.      Tahu siapa Kristus
Pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Bila pemahaman awal kenal adalah sama dengan tahu, maka memang demikian adanya. Namun bila dalam tata bahasa Indonesia sendiri, kenal adalah proses setelah tahu. Sehingga sebelum kenal, harus tahu dulu siapa Kristus. Hal ini di dapat dari orang tua atau teman. Pengetahuan secara umum pribadi Kristus memang diperlukan. Karena ini adalah pintu masuk dari sebuah pengenalan yang lebih dalam lagi.
2.      Kenal siapa Kristus
Setelah tahu, lalu belajar untuk kenal lebih dalam lagi. Kenal itu menyangkut segala sesuatu dari pribadi yang kita tahu. Bukan hanya identitas, namun juga apa yang disukai, apa yang dibenci, apa yang diharapkan, apa yang tidak diinginkan.
3.      Hidup di dalam Kristus
Ketika bicara hidup di dalam Kristus, maka itu berarti berjuang sepenuh hati melakukan apa yang diharapkan, disukai, dan melakukannya dengan kesadaran yang rela dan buka paksaan ataupun topeng. Ketika sampai pada bagian ini, alasan tidak diperlukan lagi karena buktinya nyata dan tak perlu diragukan lagi.

Hidup berakar di dalam pemahaman iman yang benar perlu kedisiplinan pengenalan. Proses awalnya dipaksakan dengan harapan menjadi suatu nilai yang menetap dan lalu menjadi kebiasaan, berkembang menjadi sebuah karakter yang memberi ‘kehidupan’.
Berikut ini adalah beberapa kebiasaan yang awalnya memang harus dipaksakan untuk kemudian berkembang menjadi sebuah gaya hidup yang ‘berakar’.
1.      Saat Teduh
Memberi waktu khusus untuk bersekutu dengan Allah agar apa yang dijalani setiap hari adalah yang berkenan dihadapan Allah. Fungsi saat teduh itu sendiri, untuk mengetahui apa rencanaNya hari ini bagiku, untuk peka apa yang Allah ingin aku lakukan, menjadi semakin mengenal Allah sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh angin pengajaran yang ada. Saat teduh dilakukan setiap hari. Hal ini meneladani Kristus sendiri, yang walau adalah anak Allah, tetap menjaga persekutuan dengan BapaNya.
2.      Berdoa
Memiliki waktu doa pribadi khusus untuk mengetahui kehendak Allah dan juga konfirmasiNya dalam banyak hal yang kita belum jelas dikarenakan dangkalnya pikiran kita. Berjuang menikmati kebersamaan dengan Allah di dalam waktu doa, memang tidak mudah bila hati dan pikiran kita tidak tertuju padaNya. Ketika kita berdoa, lakukanlah itu dengan sepenuh hati, jujur serta terbuka. Bila ada tertulis, doa adalah nafas hidup orang Kristiani, baiklah memang demikian adanya. Karena doa adalah alat komunikasi kita dengan Bapa di sorga.
3.      Baca Alkitab
Memiliki waktu untuk membaca Alkitab secara rutin, dan belajar dari Alkitab. Perlu sebuah tekad besar untuk dapat membaca Alkitab runtut dan rutin. Sebuah proyek yang dapat disebut “Bible Reading”. Melalui pembacaan Alkitab, kita dapat mengenal Allah. Bukankah Alkitab adalah isi hati Tuhan ? Melalui hikmatNya, Allah menginspirasi para penulis tiap kitab dalam Alkitab, sehingga isi hatiNya dapat tersampaikan. Tidak ada yang kontradiktif dalam Alkitab. Karena sesungguhnya Alkitab adalah sebuah buku yang komprehensif.

Ketika, hal tersebut di atas telah menjadi sebuah kebiasaan serta gaya hidup, maka akar itu telah tumbuh.
Pertanyaan mendasarnya adalah,
1.      Apakah kita mau memulainya ?
2.      Apakah kita rela untuk melakukannya ?

Selamat ‘berakar’.

Apa yang kita lakukan saat ini adalah hasil sebuah keputusan dari pertimbangan yang panjang. 
karenanya jangan sampai salah mengambil keputusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar